Powered by Blogger.

Sponsor Kami

There was an error in this gadget

Featured Video

Berbagi Indah Pada Waktunya Dengan Dunia ILMU

Total de visualizações

Followers

Saturday, 9 June 2012

Perilaku kekerasan

ALT/TEXT GAMBAR
Perilaku kekerasan merupakan suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukaiseseorang, baik secara fisik maupun psikologis (Keliat, 2009).
Resiko perilaku kekerasan yaitu suatu keadaan ketika individu mengalami perilaku yang secara fisik dapat membahayakan baik bagi diri sendiri ataupun orang lain (Sheila. L.  2001).
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri maupun orang lain (Yosep, 2009).
Perilaku kekerasan adalah perilaku individu yang dapat membahayakan orang, diri sendiri baik secara fisik, emosional, dan atau sexualitas (NANDA, 2006).
Perilaku kekerasan adalah hasil kemarahan yang ekstrim (amarah) atau ketakutan (Stuart & Laraia, 2005).
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana klien mengalami perilaku yang dapat membahayakan klien sendiri, lingkungan termasuk orang lain dan barang-barang (Maramis, 2004).
Dari pengertian diatas penulis menyimpulkan bahwa resiko perilaku kekerasan adalah tindakan membahayakan dirinya sendiri, orang lain serta lingkungan baik berupa fisik maupun psikologis sebagai hasil kemarahan dan ketakutan yang ekstrim.

Proses terjadinya perilaku kekerasan
Seseorang akan berespon dengan marah apabila merasa dirinya terancam. Ancaman tersebut dapat berupa injuri secara psikis, atau lebih dikenal dengan adanya ancaman terhadap konsep diri seseorang. Ketika seseorang merasa terancam, mungkin dia tidak menyadari sama sekali apa yang menjadi sumber kemarahannya. Oleh karena itu, baik perawat maupun klien harus bersama-sama mengidentifikasinya. Ancaman dapat berupa internal ataupun eksternal. Contoh stresor eksternal: serangan secara psikis, kehilangan hubungan yang dianggap bermakna, dan adanya kritikan dari orang lain. Sedangkan contoh dari stresor internal: merasa gagal dalam bekerja, merasa kehilangan orang yang dicintai, dan ketakutan terhadap penyakit yang diderita (Yosep, 2009).
Bila dilihat dari sudut perawat dan klien, maka faktor yang mencetuskan terjadinya perilaku kekerasan terbagi dua, yakni (Yosep, 2009):
a.    Klien: kelemahan fisik, keputusasaan, ketidak berdayaan, kurang percaya diri.
b.    Lingkungan: ribut, kehilangan orang atau objek yang berharga, konflik  interaksi   sosial.

0 comments

Post a Comment

ALT/TEXT GAMBAR
ALT/TEXT GAMBAR