Powered by Blogger.

Sponsor Kami

There was an error in this gadget

Featured Video

Berbagi Indah Pada Waktunya Dengan Dunia ILMU

Total de visualizações

Followers

Friday, 13 July 2012

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Dalam Pemakaian Kontarasepsi Jangka Panjang

ALT/TEXT GAMBAR
 

1.    Dukungan Keluarga
Dukungan keluarga merupakan andil besar dalam menentukan pemakaian program KB jangka panjang jika seluruh keluarga mendukung dan ikut serta dalam menentukan KB jangka panjang. Dapat membantu menurunkan angka kelahiran dan kematian serta menekan laju pertumbuhan penduduk. Karena keluarga dapat melaksanakan 8 fungsi keluarga secara optimal menuju keluarga yang maju, mandiri dan berketahanan tinggi (PP No 21 tahun 1999). Yang penyelenggaraan pembangunannya meliputi fungsi keagamaan, fungsi sosial, fungsi budaya, fungsi cinta kasih, fungsi reproduksi, fungsi ekonomi, fungsi pertahanan, fungsi keamanan dan fungsi pembinaan.
2.    Kepercayaan
Pada dasarnya semua kepercayaan yang ada di Indonesia menerima gagasan dari program KB walaupun terdapat perbedaan pandangan tentang metode pelaksanaan dan alat kontrasepsi yang digunakan.
Menurut kepala BKKBN, Dr. Subiri Syarief, MPA. Meskipun angka kematian ibu (AKI) masih tinggi dukungan dan komitmen para tokoh agama terhadap program kesehatan reproduksi dan keluarga berencana sudah tinggi. Bahkan kepeloporan dan kontribusi tokoh agama diwujudkan dengan membidani kelahiran dan mewarnai sejarah perjalanan program KB. Tidak hanya itu, dukungan dan komitmen tokoh agama juga dicerminkan dengan dikeluarkan fatwa ulama tentang keluarga           berencana        dan      kependudukan (http//www.agungmulyo.wordpres.com) diakses pada tanggal 20 Mei 2009 pukul 14.00 WIB. Dapat dipastikan bahwa tidak ada kaitan antara rendahnya derajat kesehatan masyarakat khususnya tingginya AKI dan TFR dengan agama yang dianutnya. Namun ada kecendrungan yang kuat bahwa AKI dan TFR yang tinggi banyak terjadi pada sebagian besar masyarakat muslim karena ada beberapa kendala yang diduga ( Prawirohardjo, S. 2003 ) yaitu :
a.         Masih kuat kepercayaan di kalangan masyarakat muslim bahwa setiap mahluk yang diciptakan tuhan pasti diberi rezeki untuk itu tidak khawatir memiliki jumlah anak yang banyak.
b.         Peran ulama yang sangat sentral sebagai panutan baik dalam hal pemikiran, sikap dan perilaku masyarakat. namun sayangnya, tidak semua ulama menyetujui program keluarga berencana ini.
Maka sangat penting memberikan peran yang lebih besar kepada para   ulama   untuk   berkiprah   dalam  program  keluarga  berencana, mengingat masih banyak masyarakat memegang kepercayaan yang masih kuat.
 3.  Umur
Salah satu faktor yang penting dalam menentukan pemakain kontrasepsi dan usia PUS mempengaruhi bagaimana mengambil keputusan dalam pemeliharaan kesehatannya ( Sarwono 2005 ).
Umur adalah lamanya seseorang hidup sejak dilahirkan sampai saat ini. dalam satuan tahun dan juga merupakan periode terhadap pola-pola kehidupan baru. Semakin bertambahnya umur maka akan semakin tinggi keinginan seseorang tentang kesehatan. (Notoatmodjo, 2003).
Upaya penundaan umur perkawinan sangat besar artinya dalam menunjang pengendalian tingkat kelahiran. Dengan melangsungkan perkawinan pada usia .muda, seorang wanita akan mempunyai kesempatan melahirkan anak lebih banyak. Oleh karena itu, usaha menurunkan angka kelahiran perlu didukung dengan usaha meningkatkan umur perkawinan. Di samping menurunkan angka kelahiran meningkatnya umur perkawinan akan mengurangi tingkat kematian ibu pada saat melahirkan maupun kematian anak karena kurang sempurnanya perawatan anak ( Danim, S. 2003 ).
Upaya peningkatan umur perkawinan yang telah dilaksanakan melalui program kependudukan dan KB adalah dengan memberikan penerangan kepada generasi muda. Mereka dimotivasi untuk melang-sungkan perkawinan sesudah umur 20 tahun bagi wanita dan umur 25 tahun bagi laki-laki, karena umur 20-35 tahun adalah kelompok umur yang dianggap paling baik, baik dari segi fisik, mental, dan usia tersebut sudah cukup dewasa, sementara umur < 20 tahun dianggap belum mempunyai pengalaman,keadaan emosinya masih labil belum mampu mengambil keputusan untuk kesehatannya (Hidayat, Aziz 2006).
4.  Pendidikan
Pendidikan adalah proses perubahan sikap atau tatalaku atau kelompok orang dalam usaha manusia melalui upaya pengajaran dan proses, perbuatan, cara mendidik sehingga dalam pendidikan perlu dipertimbangkan umur (proses perkembangan) dan hubungannya dengan proses belajar tingkat pendidikan juga merupakan salah satu satu faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang untuk lebih mudah menerima ide-ide dan teknologi baru (Arikunto, 2002 )
Pendidikan adalah upaya untuk memberi pengetahuan kepada anggota masyarakat tentang kesehatan sehingga terjadi perubahan perilaku yang positif yang terus meningkat terhadap kesehatan diri, keluarga dan masyarakat(Notoatmodjo 2003 ).
Tingkat pendidikan seseorang dapat mendukung atau mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang, dan taraf pendidikan yang rendah selalu bergandengan dengan informasi dan pengetahuan yang terbatas, makin tinggat tinggi pendidikan semakin tinggi pula pemahaman seseorang terhadap informasi yang didapat dan pengetahuan pun akan semakin tinggi (undang-undang sisdiknas, 2007 : 18).
Salah satu jenis pendidikan formal yang diperoleh seperti : SD, SLTP, SLTA, program diploma dan lain-lain. Pendidikan formal berfungsi untuk pengetahuan yang bersifat umum dan pengetahuan-pengetahuan yang bersifat khusus (undang-undang sisdiknas, 2007 : 19).
5.  Pengetahuan
Pengetahuan tentang KB merupakan salah satu aspek penting ke arah pemahaman tentang pemakaian alat kontrasepsi khususnya kontrasepsi jangka panjang.
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan pada suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia, indra pendengaran, indra penciuman, indra penglihatan, indra perasa, indra peraba dan sebagian besar pengetahuan manusia melalui mata dan telinga (Sunaryo, 2004).
Pengetahuan merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap pengambilan keputusan. Seseorang yang memiliki pengetahuan yang baik tentang sesuatu hal, maka ia cendrung akan mengambil keputusan yang lebih tepat berkaitan dengan masalah tersebut dibandingkan dengan mereka yang pengetahuannya rendah ( Depkes RI, 2000 ).
Pengetahuan merupakan suatu hal yang sangat dibutuhkan dalam rangka perubahan pola pikir dan perilaku suatu kelompok dan masyarakat. Pengetahuan ini terkait dengan lingkungan dimana seseorang menetap. Keadaan lingkungan sekitar sedikitnya akan mempengaruhi pengetahuan dalam hal ini pengetahuan mengenai kontrasepsi jangka panjang. Pengetahuan yang masyarakat diperoleh dari hasil belajar, berkomunikasi dengan orang lain, media elektronik, media cetak dan pengalaman. ( Amirudin. R, 2006 ). Pengetahuannya yang menunjang program KB yaitu pengetahuannya yang lebih tinggi sangat berpengaruh dalam mengambil keputusan untuk kesehatannya.
6.  Pekerjaan
Pekerjaan adalah segala usaha yang dilakukan atau dikerjakan yang mendapatkan upah atau hasil yang dapat dinilai dengan uang. Dalam pekerjaan selalu terdapat tuntutan perubahan kebutuhan yang cepat akan keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk memegang suatu pekerjaan dan pengetahuan yang diperlukan untuk memegang suatu pekerjaan yang mengarah konsisten kerja yang otomatis (Hasanah 2006). Tidak dapat dipungkiri bahwa pekerjaan menciptakan suatu institusi sosial yang memiliki aturan main sendiri yang sering kali berbeda antara institusi yang satu dengan yang lainnya.
Pemakaian alat kontrasepsi berdasarkan pekerjaan menurut Arikunto pada wanita bekerja sebesar 55,7 % dan yang tidak bekerja sebesar 50,3 %.Wanita yang bekerja memiliki waktu yang lebih sedikit untuk mengurus anaknya dan wanita yang bekerja akan cendrung membatasi jumlah anak dibanding wanita yang tidak bekerja lebih banyak waktu untuk mengurus anaknya. (Arikunto:2002).

0 comments

Post a Comment

ALT/TEXT GAMBAR
ALT/TEXT GAMBAR